"Pesta Babi" Watchdoc: Ketika Film Dokumenter Jadi "Hantu" Bagi Aparat
"Pesta Babi" Watchdoc: Ketika Film Dokumenter Jadi "Hantu" Bagi Aparat
Dalam beberapa hari terakhir, jagat media sosial Indonesia diramaikan oleh tagar dan diskusi seputar "Pesta Babi". Namun, ini bukan tentang perayaan kuliner, melainkan sebuah film dokumenter terbaru dari Watchdoc yang mendadak menjadi "hantu" menakutkan bagi aparat di berbagai daerah.
Locus: Papua Selatan
Menyoroti dampak PSN (Food Estate & Industri Bioenergi) di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi terhadap masyarakat adat.
Focus: Kedaulatan Pangan
Bagaimana konversi hutan menjadi lahan industri menghilangkan sumber sagu dan habitat babi hutan yang vital bagi budaya lokal.
Kronologi Pembungkaman
Laporan pembubaran paksa kegiatan nonton bareng (nobar) film ini muncul dari Ternate hingga Lombok, memicu pertanyaan besar tentang kebebasan berpendapat:
- Ternate: Nobar di Benteng Oranje dibubarkan oleh aparat Kodim 1501/Ternate.
- Lombok: Intervensi birokrasi Universitas Mataram terhadap mahasiswa.
- Surabaya: Tekanan serupa terjadi di lingkungan kampus yang seharusnya menjunjung tinggi kebebasan akademik.
Demokrasi yang Tergerus
Pembubaran ini mencerminkan paradoks besar. Jika pemerintah yakin bahwa PSN di Papua adalah demi kesejahteraan rakyat, mengapa mereka takut pada kritik yang datang dari perspektif warga terdampak?
Intervensi militer dalam ruang sipil untuk urusan pemutaran film dokumenter adalah langkah mundur. Ini bukan hanya soal Papua, tapi soal sejauh mana warga negara diizinkan untuk mengetahui realitas di balik proyek strategis.
Langkah Advokasi
- Saksikan & Sebarkan Tonton dokumenter resmi melalui kanal Watchdoc dan diskusikan secara kritis di ruang-ruang publik.
- Suarakan Kebebasan Tolak segala bentuk pembungkaman ekspresi seni dan dokumenter yang bertujuan mengedukasi publik.
- Kawal Masyarakat Adat Dukung hak-hak masyarakat adat Papua dalam mempertahankan ruang hidup dan kedaulatan pangan mereka.
Komentar
Posting Komentar